Saat Lynx melarikan diri dari kampung perampok, kilat menyambar di atas langit pulau menciptakan bayangan aneh di atas pasir basah pesisir pantai utara. Sepuluh sosok muncul dari lingkaran cahaya yang berputar dengan cepat, sebelum akhirnya lenyap dan meninggalkan mereka di dunia asing ini. Suara hembusan angin bercampur dengan deru ombak, tapi ada keheningan yang terasa ganjil di udara.

Mereka mengenakan pakaian seragam berwarna hitam dengan armor canggih yang menyelimuti tubuh mereka, lengkap dengan senjata laser dan peralatan navigasi digital yang terpasang di tangan. Lampu-lampu kecil di helm mereka berkedip pelan, tetapi data di layar mereka tampak tidak lengkap.

Di antara mereka, ada dua sosok yang terikat. Lala, seorang gadis muda dengan rambut diikat ke belakang, dan seorang pria tua dengan tubuh tegap berdiri di sampingnya, meskipun tangannya terikat di belakang. Kakek Lala adalah seorang ahli bela diri, berkat latihan yang dilakukannya, tubuhnya tetap memiliki bentuk postur yang terlihat kuat meski usianya lanjut.

Keduanya adalah keluarga Milo, pria yang mereka buru. Lala, selain seorang jenius ilmiah seperti ayahnya, adalah petarung yang terampil karena berlatih bela diri sejak kecil bersama ayah dan kakeknya.

Lala, dengan niat menemukan ayahnya yang terlihat menghilang di rekaman CCTV, membuatnya belajar dengan giat dan menjadi profesor di usia muda.

Saat berlatih dengan kakeknya, Lala menemukan catatan ayahnya di sebuah ruang kerja rahasia mengenai penelitian sebuah ruang dimensi yang tidak sengaja ditemukannya. Lala mulai meneliti berdasarkan petunjuk yang ada, dan setelah sekian tahun, dia berhasil mendapatkan sinyal dari salah satu perangkat komunikasi ayahnya yang mengirimkan sinyal SOS.

Salah satu pihak pemerintahan, tempat dimana ayahnya pernah bekerjasama, mengetahui apa yang dilakukan Lala dan berusaha mendekatinya dengan alasan ingin membantu menemukan rekan mereka.

Namun, setelah melakukan penelitian bersama, Lala akhirnya mengetahui niat jahat mereka. Pemerintah hanya ingin mendapatkan formula ayahnya, resep manusia super. Dan Lala sangat marah setelah mengetahui bahwa mereka adalah penyebab ayahnya menghilang. Dengan kemampuan bela dirinya yang telah di latih sejak kecil, Lala menghajar mereka.

Pihak pemerintah akhirnya tidak sabar lagi. Setelah telah menunggu sangat lama, akhirnya mereka dapat cara menemukan Milo, sehingga tidak ingin lagi membuang-buang waktu. Tanpa Milo, mereka tidak dapat menciptakan ulang pil yang dapat memberikan kekuatan. Mereka ingin menguasai dunia dengan memiliki prajurit super.

Lala yang keras kepala akhirnya terpaksa menyerah dan mengikuti apa kemauan mereka setelah kakeknya ditipu dan dijebak oleh mereka.

Kini, mereka berdua menjadi sandera demi membantu tim ini menemukan Milo, yang telah membawa kabur formula rahasia manusia super.

Salah satu prajurit memeriksa perangkat di pergelangan tangannya. Wajahnya yang terlihat di balik helm menunjukkan kepanikan. "Komandan Kane, semua komunikasi ke dimensi asal kita terputus!" katanya, nada suaranya bergetar.

Kane, pria bertubuh kekar dengan bekas luka memanjang di pipi kanannya, mengerutkan alis. "Cek ulang. Itu tidak mungkin," ujarnya dengan nada tegas.

"Perangkat kami normal, tapi kami tidak bisa mengakses satelit atau sinyal dimensi. Sepertinya ada semacam penghalang," jawab prajurit itu, masih sibuk memeriksa layar holografisnya.

Kane menoleh ke arah Lala, yang berdiri diam dengan ekspresi datar. "Lala," katanya tajam. "Kau ahli teknologi. Lihat apa yang terjadi."

Lala mendengus, mencoba tetap tenang meskipun rasa muak jelas terpancar di wajahnya. "Kalau aku tidak mau?" tantangnya.

Kane melangkah mendekat, menatapnya dengan dingin. "Kalau kau tidak mau, aku pastikan kakekmu disini menderita lebih dulu sebelum kami berurusan denganmu."

Lala melirik ke arah kakeknya, yang berdiri dengan kepala terangkat, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. "Lakukan saja," ucap Kakek dengan nada tenang. "Aku tidak takut pada ancaman seperti itu."

"Kakek, cukup," gumam Lala dengan cemas. Ia akhirnya mengangguk pelan. "Baik, aku akan memeriksa. Tapi ingat, aku hanya bekerja sama karena aku tidak ingin ada yang terluka."

Seorang prajurit menyerahkan layar holografis padanya. Lala mulai memeriksa data dengan jari-jarinya yang lincah, ekspresinya berubah serius saat ia menganalisis pola energi di layar. Setelah beberapa menit, ia menatap Kane dengan tatapan tajam.

"Pulau ini bukan tempat biasa," katanya.

"Apa maksudmu?" tanya Kane.

Lala mengangkat layar holografis itu, menunjukkan grafik energi yang melingkupi pulau. "Ada medan energi yang sangat kuat di sekitar pulau ini. Seolah-olah pulau ini memiliki jaring penghalang yang mengunci dimensi kita. Kita bisa masuk, tapi kemungkinan besar kita tidak bisa keluar—setidaknya tidak dengan teknologi yang kita bawa."

Prajurit lain, seorang wanita berambut pendek, melangkah maju dengan raut wajah tegang. "Bagaimana mungkin kita terjebak di sini? Komandan, ini bisa menjadi misi bunuh diri."

Kane melotot padanya. "Kita tidak punya pilihan lain. Fokus kita tetap sama—menemukan Milo dan formula itu. Kalau kita mendapatkannya, kita bisa mencari cara untuk keluar dari sini."

Lala menatap layar holografis dengan alis berkerut. "Karena ulah kalian yang mengejar ayahku, dia menghilang belasan tahun ke tempat ini dan meninggalkan kami. Kalau bukan karena ingin bertemu dengan ayahku, tidak mungkin aku mau membantu kalian meski di paksa."

"Itu salah ayahmu yang membawa lari satu-satunya pil hasil percobaan beserta catatan penelitian. Ayahmu yang mengkhianati kami. Kalau kamu tidak bisa bekerjasama, kami akan meninggalkan kalian di dalam laut ini." Kata Kane sambil menunjuk ke arah laut.

Kane lalu mendekati Lala dan mengangkat wajahnya. "Kamu sangat pintar, sekian tahun kami mencari ayahmu, tidak ada satupun yang berhasil menemukannya. Tidak diduga, ternyata kamu mewarisi kepintaran ayahmu, dan mampu melacak perangkat komunikasi yang dibawa ayahmu."

Kane melepaskan pegangannya dari wajah Lala, "Seharusnya kamu bersyukur karena kami mengajak kalian ke tempat ini menemui ayahmu."

"Ayo berangkat! Kita akan mencari tahu," kata Kane sambil berbalik ke arah timnya. "Koordinat terakhir menunjukkan jejak Milo menuju ke barat pulau. Kita bergerak sekarang!"

Ketika kelompok itu mulai bergerak masuk ke hutan lebat, Lala berjalan berdampingan dengan kakeknya. Tangan mereka masih terikat, tapi mereka menggunakan kesempatan ini untuk berbisik. "Apa yang kau pikirkan, Kakek?" tanya Lala.

"Sesuatu tentang tempat ini tidak beres," jawab Kakek dengan nada rendah. "Aku merasakannya sejak kita tiba. Pulau ini tidak hanya terisolasi secara teknologi, tapi ada sesuatu yang lebih... alami, tapi berbahaya."

Lala mengangguk, menyadari kebenaran kata-kata kakeknya. "Ayah mungkin tahu sesuatu. Kalau kita bisa menemukannya, mungkin kita bisa menemukan cara keluar dari sini."

"Apapun yang terjadi kau harus tetap kuat," ujar Kakek sambil menatap Lala dengan mata penuh tekad. "Ayahmu sudah lama menghilang dan kita tidak tahu bagaimana kondisinya saat ini."

Kakek Lala melanjutkan, "mereka menangkap kita dan memaksamu kemari karena mereka tahu kepintaran dan kerja kerasmu melacak ayahmu. Tapi ingat, mereka tidak akan membiarkan kita begitu saja. Mereka bisa saja menggunakan kita untuk mengancam ayahmu jika tidak memberikan apa yang mereka inginkan."

"Kakek benar, kita juga tidak bisa bertarung dengan kondisi seperti ini," gumam Lala sambil melirik borgol elektromagnetik di pergelangan tangannya.

"Percayalah," kata Kakek dengan nada lebih lembut. "Waktu kita akan tiba."

Hutan di pulau itu terasa tidak ada bedanya seperti dunia lain. Pohon-pohon menjulang tinggi, daunnya menciptakan kanopi yang membuat cahaya matahari hanya masuk sedikit ke tanah yang lembap. Aroma tanah basah dan tumbuhan liar memenuhi udara. Kane dan kelompoknya berjalan dalam formasi hati-hati, perangkat di tangan mereka menunjukkan grafik energi yang terus bergerak tak menentu.

"Komandan, lihat ini," kata seorang prajurit sambil menunjuk ke tanah. Di sana, ada jejak kaki manusia yang terbenam dalam lumpur, dikelilingi daun kering.

Kane berjongkok untuk memeriksa jejak itu, wajahnya penuh perhatian. "Ini jejak baru. Bukan hanya Milo yang ada di sini. Ada penduduk asli."

Salah satu prajurit wanita, berambut pendek dengan ekspresi cemas, mengerutkan dahi. "Kalau ada penduduk asli, mereka pasti tahu cara bertahan di pulau ini. Apakah mereka berbahaya?"

